Artikel ini saya kutip dari sebuah blog, yang membuat saya tertarik dengan artikel ini adalah rasa penasaran saya tentang kata "jancok". Saya bukan warga Surabaya, memang kata ini pernah saya dengar di daerah saya. Namun saya tak pernah mengucapkan kata ini, sampai saya menuntut ilmu di salah satu perguruan tinggi ternama di Surabaya. Berikut isi dari artikel yang saya baca.
Begin :
Sebelum saya
kupas lbh jauh. saya ada cerita, dulu waktu kuliah D4 di VEDC Malang. ada teman
namanya Nanang Alfianto, kejadiannya di dalam kelas, waktu itu dosen kami
sedang agak bercanda dengan kami karena beliau mendapat TELPON & SMS dari
orang gEjE yang isinya kurang lbh spt ini : SELAMAT ANDA MENDAPATKAN HADIAN
UANG TUNAI SEBESAR Rp.XXXXX YG DI UNDI TADI MALAM DI METRO TV bla.. bla… bla…
:, ahirnya beliau nyuruh kami untuk sms tuh orang secara bersamaan ntah dengan
ngomel dsb.
Akhirnya ada teman yg nyeletuk
“eh rek pisui ae ala orang surabaya (JANCUK) gitu”. tanpa banyak komentar si
Nanang bertanya ke dosen karena kebetulan tuh anak ada di samping bangku dosen
Nanang : pak sebenarnya JANCUK apa DANCUK ?
(dengan polosnya)
Dosen : karepmu Nang, koen sreg sing ngendi/
terserah kamu senangnya yang mana (agak ketus)
Nanang : ^&#@%^&** (diam gak jelas)
he3x, O! kita mulai ya…………
tulisan ini saya ambil dari salah satu blog
Bagi kalian yang orang jawa
timur, pasti sudah tak asing lagi dengan kata jancok, kata ini sangat terkenal
di jawa timur, Bahkan orang-orang di jawa tengah dan jawa barat pun sering
mengucapkan kata ini. Lantas apa sebenarnya arti kata Jancok dan bagaimana asal
mulanya bisa terbentuk kata ini.
Jancok atau dancok adalah
sebuah kata khas Surabaya yang telah banyak tersebar hingga meluas ke seantero
Indonesia bahkan sudah mendunia. Warga Jawa Timur seperti Surabaya, Malang dll
turut andil dalam penyebaran kata ini.
Jancok berasal dari kata
‘encuk’ yang memiliki padanan kata bersetubuh atau fuck dalam bahasa Inggris.
Berasal dari frase ‘di-encuk’ menjadi ‘diancok’ lalu ‘dancok’ hingga akhirnya
menjadi kata ‘jancok’.
Ada banyak varian kata
jancok, semisal jancuk, dancuk, dancok, damput, dampot, diancuk, diamput,
diampot, diancok, mbokne ancuk (=motherfucker), jangkrik, jambu, jancik,
hancurit, hancik, hancuk, hancok, dll. Kata jangkrik, jambu adalah
salah satu contoh bentuk kata yang lebih halus dari kata jancok.
Makna asli kata tersebut
sesuai dengan asal katanya yakni ‘encuk’ lebih mengarah ke kata kotor bila kita
melihatnya secara umum. Normalnya, kata tersebut dipakai untuk menjadi kata
umpatan pada saat emosi meledak, marah atau untuk membenci dan mengumpat
seseorang.
Namun, sejalan dengan
perkembangan pemakaian kata tersebut, makna kata jancok dan kawan-kawannya
meluas hingga menjadi kata simbol keakraban dan persahabatan khas (sebagian)
arek-arek Suroboyo.
Kata-kata ini bila digunakan
dalam situasi penuh keakraban, akan menjadi pengganti kata panggil atau kata
ganti orang. Misalnya, “Yoopo kabarmu, cuk”, “Jancok sik urip ae koen,
cuk?“. Serta orang yang diajak bicara tersebut seharusnya tidak marah,
karena percakapan tersebut diselingi dengan canda tawa penuh keakraban dan
berjabat tangan dong… Hehehehe….
Kata jancok juga bisa menjadi
kata penegasan keheranan atau komentar terhadap satu hal. Misalnya “Jancok!
Ayune arek wedok iku, cuk!”, “Jancuk ayune, rek!”, “Jancuk eleke, rek”, dll.
Kalimat tersebut cocok dipakai bila melihat sesosok wanita cantik yang
tiba-tiba melintas dihadapan. Hehe…
Akhiran ‘cok’ atau ‘cuk’ bisa
menjadi kata seru dan kata sambung bila penuturnya kerap menggunakan kata
jancok dalam kehidupan sehari-hari. “Wis mangan tah cuk. Iyo cuk, aku kaet
wingi lak durung mangan yo cuk. Luwe cuk.”. Atau “Jancuk, maine Arsenal
mambengi uelek cuk. Pemaine kartu merah siji cuk.
Dan memang, kata ini sangat
enak diucapkan, sampai sampai saya ketagihan mengucapkan kata ini, walaupun
arti yang saya tekankan bukanlah arti kotor, tapi hanya sekedar kata
pemanggilan saja, dan ternyata di pergaulan sekolah saya kata itu sudah biasa





