Untuk final project mata kuliah keterampilan
interpersonal atau yang lebih dikenal dengan sebutan KI ini berbeda dengan mata
kuliah lainnya. Mungkin ini juga yang menjadikan mata kuliah ini sebagai mata
kuliah favorit pada tahun sebelumnya. Final project yang diberikan berupa
sebuah game Amazing Race yaitu game dimana setiap kelompok akan melakukan
perjalanan menuju destination yang sudah ditentukan.
Setiap kelompok hanya bermodalkan uang yang terbatas
jumlahnya. Uang tersebut harus digunakan sebaik baiknya. Harus cukup untuk
pemberangkatan dan ongkos pulang. Berikut laporan perjalanan salah satu
kelompok KI yaitu kelompok Ular yang di ketuai oleh Ayunda Puspa.
Diawali dengan melakukan persiapan di taman Sistem
Informasi, kelompok ini meletakkan setiap barang yang tidak boleh dibawa.
Diantaranya adalah dompet, uang, handphone, tas hanya dibatasi 1 untuk tiap
kelompok. Sedangkan barang yang boleh dibawa adalah fotocopy KTM, note dan alat
tulis, serta bekal makanan dan minuman.
Setelah itu kita diminta untuk mendiskusikan bagaimana
kita akan berangkat menuju tempat tujuan yang telah ditentukan. Untuk tujuannya
sendiri, kelompok ular ini mendapat tempat di Rusun daerah rungkut. Memang
lokasinya merupakan yang terdekat diantara kelpompok yang ada, namun dalam
pemikiran kita akan susah mendapatkan kendaraan yang menuju daerah tersebut
jika dari ITS.
Akhirnya kelompok ini memutuskan untuk berjalan menuju ke
jalan Arif Rahman Hakim untuk mencari tumpangan. Awalnya kita melakukan
negosiasi dengan sopir angkot. Namun biaya yang diminta oleh sopir tersebut
terlalu mahal, sehingga negosiasi batal. Kami masih saja berharap bisa mendapat
angkot dengan harga murah. Namun sayangnya 2 kali angkot yang kami hentikan
tidak mendapat harga yang sesuai dengan uang yang kami miliki.
Akhirnya saat negosiasi kedua batal, salah seorang teman
kami yaitu Anisa Ingesti menghentikan sebuah mobil bak terbuka atau pick up.
Beruntung bagi kami, karena pengendara pick up tadi mau memberikan tumpangan
meskipun sebenarnya dia akan melakukan perjalanan ke kota Malang. Dalam
perjalanan, taman kami Anisa tadi sempat berbincang bincang dengan sopir tadi.
Ternyata dia berasal dari kota yang sama dengan salah
seorang anggota kelompok kami yaitu Dani. Awalnya kami hanya akan menumpang
hingga daerah jembatan Mer, tapi karena merasa tanggung, kami mencoba untuk
meminta diantar hingga rusun saja, ternyata mas sopir tadi mau. Dan yang
kembali membuat kami senang adalah ketika hendak memberi uang ala kadarnya, dia
menolak. Sehingga uang kami masih utuh.
Sesampainya kami di tujuan, kami menemui fasilitator kami
yaitu mas ridho. Di sana kita diminta untuk menemukan sebuah surat yang berisi
tugas yang akan kita kerjakan selanjutnya. Mas ridho memberikan clue bahwa
surat tersebut berada disekitar lokasi kita berada. Kami dengan mudah dapat
menebak dimana surat itu disembunyikan, karena ketika kami tiba dilokasi, kami
sempat melihat mas ridho sedang berbicara di sebuah warung. Beberapa anggota
kami menuju ke sana, tapi ternyata surat itu sudah di berikan pada tukang sapu
yang tadi berdiri di dekat kami.
Isi surat tersebut adalah “ Tugas kalian sekarang adalah
“pasir waktu” “. Awalnya kami sempat kebingungan apakah kami diminta untuk
membuat pasir waktu atau mencari makna dari pasir waktu seperti salah satu game
yang kami dapat ketika kuliah. Diskusi kelompok untuk menentukan apa maksud
dari tugas tadi dilakukan. Akhirnya kami memutuskan untuk berpencar mencari benda
yang bisa menjadi pasir waktu.
Namun sekembalinya kami, beberapa diantara kami berpikir
bahwa itu bukan benda. Tapi persepsi kami tentang bagaimana kami membagi waktu
sesuai prioritas. Akhirnya kami kembali membagi menjadi kelompok kecil untuk
mewawancarai beberapa warga sekitar untuk mencari info seperti apa prioritas
warga disekitar rusun tersebut.
Meskipun kami yakin dengan apa yang akan kami bawa
pulang, yaitu pemikiran kami tentang pasir waktu. Kami terganjal oleh ulah mas
ridho yang hanya senyum senyum. Meski sempat bimbang, akhirnya kami memutuskan
untuk tetap pada apa yang kami yakini.
Ketika bersiap untuk pulang, Ilham berkata “ jangan
terlalu berharap mendapat tumpangan gratis lagi”. Akhirnya kami memutuskan
untuk sambil lalu berjalan seperti saat kita berangkat di awal tadi. Cukup jauh
kami berjalan hingga ada beberapa anggota yang tertinggal. Setelah menunggu
anggota yang dibelakang, saya melihat sebuah truk warna kuning. Setelah
menanyakan pada kelompok, akhirnya kami setuju.
Tampaknya keberuntungan kembali berpihak pada kami.
Karena tujuan truk tersebut adalah teknik elektro ITS. Setelah saling tolong
menolong untuk naik ke atas truk, saya turun untuk mengambil foto sebagai
dokumentasi. Tapi setelah say selesai mengambil foto dan akan naik ke truk
lewat sisi samping. Truk tersebut melaju pelan, sehingga kaki saya yang
berpijak pada ban truk tergelincir. Untungnya saya sempat melompat dan meraih badan
truk, jadinya saya bisa naik ke truk tersebut.
Selama perjalanan banyak dari anggota kelompok kami yang
tenyata pertama kali naik truk dan naik pick up. Salah satunya adalah Ayik, dia
terlihat sangat senang bisa merasakan sensasi naik truk dan pick up. Begitu
pula dengan Farroh yang berasal dari jakarta, dia bilang bahwa “ ini pertama
dan terakhir kalinya saya naik pick up dan truk”.
Finally kami sampai di sistem informasi meskipun kami
bukan yang pertama sampai. Dengan uang yang masih utuh, anggota lengkap dan
sehat. Saya senang bisa bergabung dengan kelompok ular ini.


0 komentar:
Posting Komentar